Langkah-Langkah Mengukur Kesuksesan Kampanye Komunikasi

indira-abidin-dalam-public-communication-summit-2016Indira Abidin dalam Public Communication Summit 2016

Jakarta, 26 Oktober 2016 – Intensitas penggunaan perangkat mobile di seluruh dunia meningkat drastis. Berdasarkan data yang dilansir Nielsen baru-baru ini, sebanyak 56% konsumen di seluruh dunia tidak bisa membayangkan hidup tanpa perangkat mobile, dan 53% mengatakan bahwa mereka merasa cemas ketika jauh dari perangkat mobile mereka.

Bagi banyak konsumen, perangkat mobile adalah teman setia dengan beragam manfaat. Di antara responden global, 74% mengatakan mereka menyukai kebebasan untuk dapat terhubung di mana saja, kapan saja, dan 70% sangat atau agak setuju bahwa perangkat mobile mereka telah membuat hidup mereka lebih baik. Konektivitas konstan yang ditawarkan perangkat mobile telah mengubah pola dan perilaku komunikasi konsumen. Dua pertiga dari responden global (66%) sangat atau agak setuju bahwa interaksi elektronik menggantikan komunikasi tatap muka, dan hampir setengahnya (47%) mengatakan mereka lebih suka teks daripada berbicara.

Bagi para praktisi PR profesional, perubahan  ini tentu berdampak pada pengemasan kampanye mereka. Para praktisi dituntut untuk mengoptimalisasikan penggunaan perangkat mobile dalam aktivitas kampanye komunikasi yang dijalankan. “Selain pesan komunikasi, pemilihan media yang tepat juga sangat mempengaruhi kesuksesan sebuah kampanye komunikasi. Semakin dekat media komunikasi yang digunakan dengan target khalayak, maka kemungkinan keberhasilan kampanyenya akan semakin besar,” papar Indira Abidin, dalam gelaran ke-enam Public Communication Summit 2016.

Selanjutnya, Indira memaparkan langkah-langkah strategis dalam mengukur kesuksesan sebuah kampanye komunikasi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengukur keefektifan proses komunikasi (communication measurement), kemudian mengukur hubungan (relationship measurement), dan terakhir mengukur nilai yang dihasilkan dari kampanye komunikasi (values measurement).

Mengukur keefektifan proses komunikasi dapat dilakukan melalui penghitungan secara kuantitatif berapa jumlah khalayak yang telah mendapat terpaan pesan dari kampanye komunikasi serta seberapa baik pesan tersebut dapat diserap dan diterima oleh khalayak, termasuk didalamnya mengukur keefektifan penggunaan media dan pesan komunikasi. Selanjutnya, pengukuran hubungan dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana konten kita dan keterlibatan audience mempengaruhi persepsi serta sikap audience. Apakah brand, korporat, atau individu yang dikampanyekan dianggap positif, netral, atau justru negatif.

Kampanye komunikasi dapat mempengaruhi khlayak dalam beberapa tahap berbeda, mulai dari terbentuknya kesadaran (awareness), pengetahuan (knowledge), ketertarikan (interest), pilihan (preference), hingga  perubahan sikap dan perilaku (action). “Nah, saat melakukan evaluasi, kita harus sampai menghitung seberapa berhasil kampanye komunikasi yang dijalankan mampu mengubah sikap dan perilaku khalayak sesuai dengan tujuan kampanye komunikasi tersebut atau bahkan sampai merekomendasikan kampanye kita kepada orang lain,” Indira menjelaskan.

Dalam langkah terakhir evaluasi,  para praktisi komunikasi harus mengukur hubungan keefektifan kampanye komunikasi terhadap kontribusi perkembangan bisnis perusahaan. “Seluruh elemen aspek dalam kampanye komunikasi harus betul-betul diukur, bukan sekedar mengukur tercapai tidaknya tujuan komunikasi melainkan juga tercapai tidaknya tujuan bisnis perusahaan,” tegas indira.

Public Communication Summit 2016 diselenggarkan oleh MarComm Institute pada 26-27 Oktober di Intercontinental Hotel Jakarta. Acara ini dihadiri oleh para praktisi komunikasi se-Indonesia.

Tentang Fortune Indonesia

PT Fortune Indonesia Tbk. (IDX: FORU) adalah grup perusahaan pengembang komunikasi terpadu di Indonesia yang berdiri sejak 1970. Perusahaan-perusahaan FORU menawarkan usaha jasa advertising, public relations, brand activation, digital solution, media planning and investment, exhibition, sports marketing, brand consulting hingga marketing insight. FORU dikenal publik atas keberhasilannya menjalankan berbagai kampanye social marketing berdampak luas di Indonesia, seperti Kondom 25, Lingkaran Biru KB, Ayo Sekolah, Indonesia Bangkit, sampai Pemilu 2004. Hingga saat ini, FORU juga masih menjadi rekan bisnis terpercaya dari perusahaan-perusahaan ternama seperti Pertamina, Honda, Tupperware, Kalbe, Daihatsu, Indocement, dan masih banyak lagi. FORU terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 2002. Pada tahun 2011, FORU berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar 505,63 milyar rupiah dan pertumbuhan laba usaha sebesar 44,52 persen dari tahun sebelumnya. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di http://www.foru.co.id/